ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS PADA HIDUNG

ASUHAN KEPERAWATAN

TONSILITIS PADA HIDUNG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 6 November 2012

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.   Latar Belakang

Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.

Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/ penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.

2. Rumusan Masalah

  • Apakah yang dimaksud dengan Tonsilitis?
  • Bagaimanakah Etiologi Tonsilitis?
  • Bagaimanakah Manifestasi Tonsilitis?
  • Bagaimanakah patofisiologi dan WOC Tonsilitis?
  • Bagaimanakah penatalaksanaan dan pengobatan Tonsilitis?
  • Bagaimanakah ASKEP pada klien dengan Tonsilitis?

3. Tujuan

  1. Tujuan Umum

Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan tonsilitis secara komprehensif.

  1. Tujuan khusus

a)     Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsilitis

b)     Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien tonsilitis

 

 

 

Bab ii

Tinjauan teoritis

 

  1. a.  Pengertian

Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridons dan Streptococcus pyrogenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer, 2000).

Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A Streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).

Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan, terutama pada anak-anak (Sriyono, 2006).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Tonsilitis adalah suatu peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok Streptococcus beta hemolitik, Streptococcus viridons dan Streptococcus pyrogenes namun disebabkan juga oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus. Tonsilitis biasanya sering dialami anak-anak yang disertai demam dan nyeri pada tenggorokan

 

  1. A.  Klasifikasi
  2. Tonsillitis akut

Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.

  1. Tonsilitis falikularis

Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.

Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.

 

  1. Tonsilitis Lakunaris

Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.

  1. Tonsilitis Membranosa (Septis Sore Throat)

Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.

  1. Tonsilitis Kronik

Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.

 

  1. B.  Etiologi

Etiologi menurut Mansjoer (2001) etiologi tonslitis adalah :

  1. Streptokokus Beta Hemolitikus

Streptokokus beta hemolitikus adalah bakteri gram positif yang dapat berkembang biak ditenggorokan yang sehat dan bisa menyebabkan infeksi saluran nafas akut.

  1. Streptokokus Pyogenesis

Streptokokus pyogenesis adalah bakteri gram positif bentuk bundar yang tumbuh dalam rantai panjang dan menyebabkan infeksi streptokokus group A. Streptokokus Pyogenesis adalah penyebab banyak penyakit penting pada manusia berkisar dari infeksi khasnya bermula ditenggorakan dan kulit.

  1. Streptokokus Viridans
    Streptokokus viridans adalah kelompok besar bakteri streptokokus komensal yang baik a-hemolitik, menghasilkan warna hijau pekat agar darah. Viridans memiliki kemampuan yang unik sintesis dekstran dari glukosa yang memungkinkan mereka mematuhi agregat fibrin-platelet dikatup jantung yang rusak.
  2. Virus Influenza
    Virus influenza adalah virus RNA dari famili Orthomyxo viridae (virus influenza). Virus ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin pada manusia gejala umum yang terjadi yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat. Dalam kasus yang buruk influenza juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia

 

  1. C.  Patofisiologi

Penyebab terserang tonsilitis akut adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang – kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.

  1. Pada Tonsilitis Akut
    Penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan Epitel kemudian bila Epitel ini terkikis maka jaringan Umfold superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.
  2. Pada Tonsilitif Kronik
    Terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
    Jadi tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu – abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak – bercak tersebut sesungguhnya adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga kuman – kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.
  3. D.  Manifestasi Klinis

Keluhan pasien biasanya berupa nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan kadang – kadang pasien tidak mau minum atau makan lewat mulut. Penderita tampak loyo dan mengeluh sakit pada otot dan persendian. Biasanya disertai demam tinggi dan napas yang berbau, yaitu :

  • Suhu tubuh naik sampai 40 oC.
  • Rasa gatal atau kering ditenggorokan.
  • Lesu.
  • Nyeri sendi, odinofagia.
  • Anoreksia dan otolgia.
  • Bila laring terkena suara akan menjadi serak.
  • Tonsil membengkak.
  • Pernapasan berbau.

 

  1. E.  Komplikasi
  • Otitis media akut.
  • Abses parafaring.
  • Abses peritonsil.
  • Bronkitis,
  • Nefritis akut, artritis, miokarditis.
  • Dermatitis.
  • Pruritis.
  • Furunkulosis.
  1. F.   Pemeriksaan Penunjang
  • Kultur dan uji resistensi bila perlu.
  • Kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.

 

  1. G.  Penatalaksanaan Medis

Sebaiknya pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta makan – makanan yang berisi namun tidak terlalu padat dan merangsang tenggorokan. Analgetik diberikan untuk menurunkan demam dan mengurangi sakit kepala. Di pasaran banyak beredar analgetik (parasetamol) yang sudah dikombinasikan dengan kofein, yang berfungsi untuk menyegarkan badan.

Jika penyebab tonsilitis adalah bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin. Kadang – kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10 hari.
Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah Streptokokus beta hemolitkus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik. Kadang – kadang dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat.

  • Terapi obat lokal untuk hegiene mulut dengan obat kumur atau obat isap.
  • Antibiotik golongan penisilin atau sulfonamida selama 5 hari.
  • Antipiretik.
  • Obat kumur atau obat isap dengan desinfektan.
  • Bila alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamigin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asuhan Keperawatan

  1. 1.   Pengkajian

Fokus pengkajian pada klien yang mengalami peradangan pada tonsil adalah sebagai berikut

  1. Wawancara/Anamnesa
  • Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
  • Apakah pengobatan adekuat
  • Kapan gejala itu muncul
  • Apakah mempunyai kebiasaan merokok
  • Bagaimana pola makannya
  • Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
  1. Pemeriksaan fisik
    Data dasar pengkajian (Doengoes, 1999)
  • Intergritas Ego
    Gejala : Perasaan takut, Khawatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan kerja, dan keuangan.
    Tanda : ansietas, depresi, menolak.
  • Makanan / Cairan
    Gejala : Kesulitan menelan
    Tanda : Kesulitan menelan, mudah terdesak, inflamasi, kebersihan gigi buruk.
  • Nyeri / Keamanan
    Tanda : gelisah, perilaku berhati-bati
    Gejala : sakit tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ke telinga
  • Pernapasan
    Gejala : riwayat merokok / mengunyah tembakau, bekerja dengan serbuk kayu, debu.
  • Persarafan
    Syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelemahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran, kerusakan membran mukosa.
  • Psikologis
    Denial, tidak percaya, menolak, marah, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.
    Hasil pemeriksaan fisik secara umum di dapat :
    • Pembesaran tonsil dan hiperemis
    • Letargi
    • Kesulitan menelan
    • Demam
    • Nyeri tenggorokan
    • Kebersihan mulut buruk
  1. Pemeriksaan diagnostik
    Pemeriksaan usap tenggorok; Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum memberikan pengobatan, terutama bila keadaan memungkinkan. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kuman penyebab dan obat yang masih sensitif terhadapnya.

 

  1. Diagnosa Keperawatan
    Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
  2. Bersihan jalan napas tidak berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan.
  3. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil, adanya trauma secara fisik.
  4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan  makan yang tidak adekuat
  5. Ganggauan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada area bicara.
  6. Hipertermi berhubungan dengan  efek sirkulasi endotoksin pada hipotalamus.
  7. Cemas berhubungan dengan rasa tidak nyaman

 

3. Intervensi Keperawatan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan
    Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
    Intervensi:
    • Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/sesuai indikasi).
    • Kaji fungsi sistem pernafasan.
    • Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/usaha mengeluarkan sekret.
    • Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
    • Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis).
    • Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisioterapi.
  2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil, adanya trauma secara fisik
    Tujuan : Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
    Intervensi:
    • Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
    • Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
    • Ciptakan lingkungan yang tenang.
    • Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.
    • Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
  3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan  makan yang tidak adekuat
    Tujuan : Klien akan memperlihatkan peningkatan nafsu makan.
    Intervensi :
    • Kaji kebiasaan diet, catat adanya kesulitan makan.
    • Berikan makanan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering dan makanan yang menarik.
    • Hindari makan makanan  yang menghasilkan gas.
    • Timbang Berat badan sesuai indikasi.
    • Kaji kepatenan jalan nafas, catat frekuensi  dan adanya bunyi nafas tambahan.
  4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada area bicara.
    Tujuan : Klien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
    Intervensi:
    • Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami).
    • Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
    • Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.
    • Guna tehnik komunikasi non verbal.
    • Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.
    • Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.
  5. Hipertermi berhubungan dengan  efek sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
    Tujuan : Klien akan memperlihatkan suhu dalam batas normal.
    Intervensi :
    • Pantau suhu pasien (derajat dan pola) perhatikan adanya menggigil dan diaforesis;
    • Berikan kompres hangat, hindari penggunaan alkohol.
    • Kaji tanda-tanda vital.
    • Penatalaksanaan pemberian antipiretik (parasetamol).
  6. Cemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
    Tujuan : Klien akan menginformasikan kecemasan berkurang/ hilang
    Intervensi :
    • Kaji tingkat kecemasan klien dan tentukan bagaimana pasien menangani masalah.
    • Identifikasi persepsi pasien tentang ancaman  yang ada dari situasi.
    • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.
    • Beri informasi yang akurat dan jawab pertanyaan dengan jujur.

 

  1. 4.  Implementasi 

 Implementasi merupakan Pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi  yang tepat dengan  selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dan evaluasi dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

 

  1. 5.  Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:

  1. Berhasil : Perilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
  2. Tercapai sebagian : Pasien menunjukkan perilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
  3. Belum tercapai. : Pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan perilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus

Berdasarkan klasifikasinya :

  1. Tonsillitisakut
    Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.
  2. Tonsilitis falikularis
    Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.
    Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan     yang    tersangkut.

 

B. Saran

Jika pembaca ingin tahu lebih banyak tentang TONSILITIS pembaca dapat membaca buku-buku atau membukasitus tentang TONSILITIS, seperti yang ada pada Daftar Pustaka atau dapat langsung pada Dokter. 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Belden MD. THT : www. emedicine. com. Last Updated 24 Juni 2003.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. FKUI. Jakarta.
Saten S. Chalazion. Taken From : www. emedicine. com. Last Updated : 5 Juli 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s