ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “DIARE”

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “DIARE”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.  sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com).

Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare

Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan serius.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).

 

B. Tujuan Penulisan

     Tujuan Umum

      Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare

     Tujuan Khusus

 Untuk mengetahui tinjauan teoritis diare

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. A.  PENGERTIAN DIARE

Pengertian diare menurut Hendarwanto (1999)  buang air besar defikasi dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan sehingga kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal, yaitu 100 – 200 ml sekali. Menurut Ngastiah (1999) diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feces encer, dapat berwama hijau atau bercampur lendir dan darah. Sedangkan menurut WHO (1980) diare adalah defikasi encer lebih dari 3 kali sehari tanpa/ dengan daerah/ sendiri didalam tinja.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus

 

  1. B.   PENYEBAB DIARE

Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

  1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:

a)    Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.

b)    Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.

 

  1. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:

a)    malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.

b)    Kurang kalori protein.

c)    Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor infeksi

a)    Infeksi enteral

Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).

b)    Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.

  1. Faktor malaborsi

Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.

  1. Faktor makanan
  2. Faktor psikologis

 

  1. C.  MANIFISTASI KLINIS

Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu, daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet karena sering defikasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus berlangsung tanpa pergantian yang memadai gejala dehidrasi mulai tampak yaitu : BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung (bayi), selaput lendir bibir dan mulut, serta kulit kering.

Bila berdasarkan terus berlanjut, akan terjadi renjatan hypovolemik dengan gejala takikardi, denyut jantung menjadi cepat, nadi lemah dan tidak teraba, tekanan daran turun, pasien tampak lemah dan kesadaran menurun, karena kurang cairan, deuresis berkurang (oliguria-anuria). Bila terjadi asidosis metabolik pasien akan tampak pucat, nafas cepat dan dalam (pemafasan kusmaul).

 

  1. D.  Pemeriksaan Diagnostik

– Pemeriksaan tinja.

– Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.

– Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.

– Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

 

  1. E.   Penatalaksanaan

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.

Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik.

 

  1. F.   Komplikasi

Menurut Broyles (1997) komplikasi diare  ialah: dehidrasi, hipokalemia, hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan hipokalsemia), hiponatremia, dan shock hipovolemik.

 

 

 

 

 

  1. G.  PATOFISIOLOGI

PATHWAYS

Faktor infeksi            Faktor malabsorbsi               Gangguan peristaltik

 

 

Endotoksin                Tekanan osmotik ↑       Hiperperistaltik    Hipoperistaltik         

merusak mukosa

usus                     Pergeseran cairan         Makanan tidak   Pertumbuhan bakteri

                                   dan elektrolit ke            sempat diserap

                                   lumen usus                                       Endotoksin berlebih

     

                Hipersekresi cairan

                                                                                             dan elektrolit

                                                 Isi lumen usus ↑

 

 

                                           Rangsangan pengeluaran      

 

 

                                                    Hiperperistaltik

 

 

                                                             Diare

 

 

 Gangguan keseimbangan cairan               Gangguan keseimbangan elektrolit

 

 

 Kurang volume cairan (dehidrasi)                   Hiponatremia

                                                                          Hipokalemia

 Pusing, lemah, letih, sinkope, anoreksia,         Penurunan klorida serum

 mual, muntah, haus, oliguri, turgor kulit                                             

kurang, mukosa mulut kering, mata dan     Hipotensi postural, kulit dingin,      ubun-ubun cekung, peningkatan suhu              tremor 

 tubuh, penurunan berat badan                         kejang, peka rangsang, denyut  jantung cepat dan lemah

(Horne & Swearingen, 2001; Smeltzer & Bare, 2002)

 

 

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbul diare :
1. Gangguan osmotik

Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam
lumen usus naik sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbulah diare.
2. Gangguan sekresi

Akibat-rangsangan-tertentu-(toksin)..pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare karena kenaikan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

Sebagai akibat diare akan terjadi:
1.  Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
2. Gangguan gizi

Selama sakit sering terjadi gangguan gizi dengan akibat penurunan berat badan dalam waktu yang singkat oleh karena:
– Makanan sering dihentikan oleh orangtua karena takut diare/muntah bertambah hebat
– Orang tua hanya memberikan air teh saja
– Walaupun susu diteruskan sering diencerkan dalam waktu yang lama
– Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik
3. Hipoglikemia
– 2-3 % dari anak-anak diare
– Jarang terjadi pada anak dengan gizi baik namun sering terjadi pada anak dengan KKP (Kurang Kalori Protein)
– Hipoglikemi terjadi karena penyimpanan / persediaan glikogen dalam hati terganggu dan kadang disebabkan adanya gangguan absorpsi glukosa
4. Gangguan sirkulasi darah

Akibat diare dengan/tanpa muntah-muntah dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa syok hipovolemik. Hal ini menyebabkan perfusi jaringan berkurang dan dapat menyebabkan hipoksi.

 

 

  1. H.  KOMPLIKASI
  2.  Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/ hipertonik)
  3.  Renjatan hipovolemik
  4.  Hipokalemia/ dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, takikardia,perubahan EKG
  5.  Hipoglikemia
  6.  Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa
  7. Kejang, pada dehidrasi hipertonik
  8. Malnutrisi energi protein (muntah dan mual bila lama/ kronik)
    1. 1.    Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)
    2. Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer
    3. Riwayat Kesehatan Sekarang
      Pada umumnya anak masuk Rumah Sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa dengan muntah, tinja dpat bercampur lendir dan atau darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran
    4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
      Meliputi pengkajian riwayat :

 

ASKEP PADA ANAK DENGAN DIARE

1)   Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan serta imunisasi.

2)    Natal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong persalinan, penyulit persalinan.

3)   Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg – 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital.

4)   Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-masalah feeding (vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.

5)   Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap sebelumnya.

6)   Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-tumbuhan, debu rumah

7)   Obat-obat terakhir yang didapat
Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.

8)   Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.

9)   Tumbuh Kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg – 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.

 

  1. Riwayat Psikososial
    Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
  2. Riwayat Spiritual
    Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.
  3. Reaksi Hospitalisasi
  • Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan yang dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih
  • Perubahan pola kegiatan rutin
  • Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi
  • Kehilangan otonomi
  • Takut keutuhan tubuh
  • Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya
  1.  Aktivitas Sehari-Hari
    1. Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari
    2. Output cairan :

(a)  IWL (Insensible Water Loss)
(1) Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam
(2) Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh – 36,8 oC)

(b)  SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati, misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :
(1) Urine : 1 – 2 cc / Kg BB / 24 jam
(2) Faeces : 100 – 200 cc / 24 jam
3. Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.

  1. h.   Pemeriksaan Fisik

a)     Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun

b)    Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.

c)    Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.

d)    Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.

e)     Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer

f)     Perkemihan
Volume diuresis menurun.

g)     Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.

h)    Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek

i)      Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.

j)      Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan

k)     Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.

l)      Neorologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.

 

  1. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan

1)     Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai bisa bersepeda roda tiga.

2)     Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi

3)     Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.

 

  1. 3.  Diagnosa Keperawatan
  2. a.   Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
  3. b.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
  4. c.   Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
  5. d.   Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
  6. e.   Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
  7. f.   Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru

 

  1. 4.  Rencana Keperawatan

Dx.1  Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)

Tujuan   :    Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi    

Intervensi

Rasional

Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasiPantau intake dan output.

Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.

 Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium

Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa

Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif

Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui

Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.

Tujuan   :  Kebutuhan nutrisi  terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan

Intervensi

Rasional

Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.

Menurunkan kebutuhan metabolik

Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan

Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.

Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet

Memenuhi kebutuhan nutrisi klien

Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi

Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut

Dx.3  : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Tujuan :     Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal

Intervensi

Rasional

Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.

Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri

Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen

Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping

Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit

Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi

Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi

Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis

Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal

Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.

Tujuan   :  Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.

Intervensi

Rasional

Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.

Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah

Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama

Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian

Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.

Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan

Dx.5  : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.

Tujuan   :    Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.

Intervensi

Rasional

Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.

Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.

Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.

Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien

Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul

Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.

Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi

Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya

Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru

Tujuan     :    Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan

Intervensi

Rasional

Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan

Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan

Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin

Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress

Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien

Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimun

  1. 5.   Implementasi

Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya

 

  1. Evaluasi

Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI

 

Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta

 

Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1,    Ed.4, EGC, Jakarta

 

Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta

 

Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.

 

Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

 

Whaley & Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda company, USA.

 

NIC (Nursing Intervention Classification)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “campak”

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “campak”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  LATAR BELAKANG

Morbili adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virusyang belum ada obatnya dan apabila tidak ditindaklanjutkan dalam keperawatannya maka akan mengakibatkankomplikasi dalam tubuh, sehingga peranan keperawatan dalam penanggulangan morbili di RS penting untuk mengurangi resiko penderita penyakit.

Peran perawat adalah mengatasi penyakit morbili dengan promotif, preventif, kreatif dan rehabilitative. Promotif adalah member penyuluhan kesehatan di masyarakat tentang penyakit morbili dan penanggulangannya, preventif yaitu untuk mencegah terjadinya morbili adalah merubah kebiasaan sehari-hari yaitu menjaga kebersihan lingkungan, pola hidup sehat.

Masa tunas atau inkubasi penyakit morbili berlangsung kurang lebih dri 10-20 hari da kemudian timbul gejala-gejala.

 

  1. B.  Tujuan

1)   Tujuan Umum

Mahasiswa memperoleh pengalaman secara nyata dalam merawat pasien anak dengan morbili dan diperoleh informasi dalam gambaran bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pasien anak.

2)      Tujuan Khusus

Agar mahasiswa mampu :

                      i.      Melakukan pengkajian pada klien anak dengan morbili

                     ii.      Menentukan masalah keperawatan pada klien anak dengan morbili

                    iii.      Merencanakan Asuhan Keperawatan pada anak dengan morbili

                    iv.      Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien anak dengan morbili.

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.  PENGERTIAN

Campak disebut juga Morbili. Campak merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian campak dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian.

Penyakit Campak adalah penyakit menular akut yang disebabkan virus Campak/ Rubella. Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien.  Virus ini terdapat dalam darah, air seni, dan cairan pada tenggorokan. Itulah yang membuat campak ditularkan melalui pernapasan, percikan cairan hidung ataupun ludah.

 

  1. B.   Etiologi

Etiologi campak adalah virus RNA dari famili paramikoviridae, genus morbili virus. Hanya 1 tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodormal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.

Virus Campak dapat diisolasi dalam biakan emrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus, perubahan sitopatik, tampak dalam 5 – 10 hari, terdiri dari sel raksasa multi nudeus dengan 1 nukleusi intra nudear. Anti bodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam.muncul. (Richard E. Behrman: 1999).

  1. C.  PENYEBAB

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Rubella, oleh karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.

  1. D.  PENGOBATAN

a)   Campak tanpa Penyulit, cukup dengan:

  • • Rawat jalan
  • • Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori

 

Morbili merupakan suatu penyakit self-limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat symtomatik, yaitu : memperbaiki keadaan umum, antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5 – 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam – ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 – 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari. – Antitusif perlu diberikan bila batuknya hebat/mengganggu, narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan. – Mukolitik bila perlu – Vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat.

Antibiotic diberikan bila ada infeksi sekunder. Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita morbili yang mengalami ensefalitis, yaitu:

  • Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
  • Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.

b)   Campak dengan Penyulit :
– Menyingkirkan komplikasi
– Mengobati komplikasi bila ada
– Merujuk ke rumah sakit bila perlu

 

  1. E.  PENCEGAHAN
  2. Cara yang paling efektif untuk mencegah anak dari penyakit campak adalah dengan memberikan imunisasi campak. Jika setelah mendapat imunisasi, anak terserang campak, maka perjalanan penyakit akan jauh lebih ringan. Imunisasi campak untuk bayi diberikan pada umur 9 bulan. Bisa pula imunisasi campuran, misalnya MMR (measles-mump-rubella), biasanya diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Disuntikkan pada otot paha atau lengan atas
  3. Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.
    Jika anak belum waktunya menerima imunisasi campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam.

 

  1. F.    KOMPLIKASI

Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Namun komplikasi dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak :
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), sehingga penderta
mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
3. Ensefalitis (radang otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.
4. Bronkopnemonia (infeksi saluran napas) 7. Kejang demam (step)
5. Otitis Media (infeksi telinga) ` 8. Diare
6. Laringitis (infeksi laring)

 

  1. G.  DIAGNOSA
    Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut :

ü  Anamnesis
1. Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak), batuk, pilek harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili.
2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.
3. Dapat disertai diare dan muntah.
4. Dapat disertai dengan gejala perdarahan (pada kasus yang berat) : epistaksis, petekie,ekimosis.
5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili (1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi campak.

ü  Pemeriksaan fisik
1. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya demam (biasanya tinggi) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.
2. Pada umumnya anak tampak lemah.
3. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas (akhir stadium kataral).
4. Pada stadium erupsi timbul ruam (rash) yang khas : ruam makulopapular yang munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi, muka, dan kemudian seluruh tubuh.

  1. H.  Manifestasi klinis
    Manifestasi klinis (Ngastiyah : 2005) adalah masa tuntas 10 – 20 hari. Penyakit  dibagi dalam 3 stadium yaitu stadium, kataraiis stadium, erupsi dan stadium konvalensi.
    1.    Stadium kataralis
    biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas tubuh, malaise (lemah), batuk, fct’o fobia (silau), konjungtivitis dan koriza (katar hidung). Menjelang akhir stadium kataralis dan 24 jam timbul eantema (ruam pada selaput lendir). Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi eriterna.
    2.    Stadium erupsi
    a.    koriza dan batuk-batuk bertambah
    b.    timbul enantema atau titik atau titik merah di palatum durum dan palatum mole
    c.    kadang-kadang terlihat pula bercak- bercak koplik
    d.    dalam 2 hari bercak–bercak menjalar kemuka, lengan atas dan bagian dada, punggung, perut, tungkai bawah.
    e.    Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit.
    f.    Rasa gatal, muka bengkak
    g.    Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan di daerah leher belakang
    h.    Terdapat pula sedikit splenomegali serta sering pula disertai diare dam rnuntah
    3.    Stadium konvalensi.
    Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpiginentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering pula ditemukan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomik untuk campak. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal, kecuali jika ada komplikasi.

 

  1. I.    Patofisiologi
    Lest essensial campak terdekat di kulit, membran mukosa nasofaring bronkus, dan saluran cerna dan pada konjungtiva. Eksudat serosa dan poliderasi sel mononudear dan beberapa sel polimorfonuklear terjadi sekitar kapiler. Biasanya terjadi hyperplasia jaringan limfoid, terutama pada apendiks, dimana sel raksasa multi nudeus berdiameter sampai 100 um (set raksasa retikuloendotelial warthin-finkeldey) dapat ditemukan dikulit, reaksinya terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut, bercak koplik terdiri dari eksudat serosa dan preliferasi sel endotel serupa dengan bercak lesi pada kulit. Reaksi kadang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring meluas kedalam jaringan finifold dan membrane mukosa trakeobronkial. Pneumonitis interstisial akibat dan virus campak mengambil bentuk pneumonia sel raksasa hecht. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN CAMPAK

 

  1. A.  PENGKAJIAN
  2. Riwayat keperawatan : riwayat iminusasi, kontak dengan orang yang terinfeksi.
  3. Pada pengkajian anak dengan campak dapat ditemukan adanya tanda¬-tanda:
    1. Demam
    2. Nyeri tenggorok
    3. Nafsu makan menurun
    4. Adanya bercak putih kelabu
    5. Kelemahan pada ekstremitas
    6. Batuk
    7. Konjungtivitis
    8. Eritema pada banan belakang telinga, leher dan bagian belakang
    9. Lemah, lesu
    10. Apabila terjadi komplikasi pada telinga dapat ditemukan adanya serumen atau cairan yang keluar dari telinga.
    11. Apabila pada bronkhus dapat menyebabkan bronkhopneumonia, terjadi masalah pernafasan.

 

  1. B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
  2. Resiko infeksi berhubungan dengan organisme purulen.
  3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang
    tertahan.
  4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunitas
  5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan.
  6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan.
  7. Nyeri akut berhubungan dengan keterbatasan agen injury.

 

 

 

  1. C.  INTERVENSI
  2. Dx I
    Tujuan     :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
    NOC     :    Immune status

Kriteria Hasil     :

  1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
  2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
  3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  4. Jumlah leukosit dalam batas normal
  5. Menunjukkan perilaku hidup sehat

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Infection Control.
Intervensi    :

  1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
  2. Batasi pengunjung bila perlu
  3. Pertahankan teknik isolasi
  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
  5. Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung meninggalkan pasien.
  6. Tingkatkan intake nutrisi
  7. Berikan antibiotik bila perlu

 

  1. Dx II
    Tujuan    :    Setalah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
    keperawatan diharapkan jalan nafas efektif.
    NOC    :     Respiratory status :    Ventilation

Kriteria Hasil    :

  1.  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara, nafas yang bersih, tidak ada sianosis, dan. dyspnen.
  2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
  3. Mampu mencegah dan mengidentifikasi faktor yang dapat menghambat jalan nafas.

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Air way management

Intervensi    :
a.    Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
b.    Identifikasi pasien perlunya pemasangan alai jalan nafas buatan
c.    Lakukan fisioterapi dada jika perlu
d.    Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
e.    Monitor status respirasi dan O2.

 

  1. Dx III
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
    NOC    :    Tissue integrity : Skin and mucous membranes

 

Kriteria Hasil    :

  1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi.
  2. Tidak ada luka, atau lesi pada kulit
  3. Perfusi jaringan baik
  4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang.
  5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan

NIC        :    Pressure Management
Intervensi    :   
a.    Anjurkan pasien untak menggunakan pakaian yang longgar.
b.    Hindari kerutan pada tempat tidur
c.    Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
d.    Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali
e.    Monitor kulit adanya kemerahan
f.    Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
g.    Monitor status nutrisi pasien

  1.  Dx IV
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.
    NOC    :    Nutritional Status : Food and fluid intake

Kriteria Hasil    :   
a.    Adanya penigkatan berat badan sesuai dengan tujuan
b.     Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
c.    Mampu mengidentifikasikan kebutuhan nutrisi
d.    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
e.    Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Nutrition management
Intervensi    :

  1.  Kaji adanya alergi makanan
  2. Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
  3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake protein, Fe, dan vitamin C
  4. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
  5. Berikan makanan yang terpilih.
  6.  Dx V
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pasien dan keluarga mengerti tentang penyakitnya.
    NOC    :    Knowledge : Disease process
    Kriteria Hasil     :
    1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
    2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
    3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Mengajarkan proses penyakit

Intervensi    :   
a.    Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara yang benar.
b.    Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat
c.    Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
d.    Hindarkan harapan yang kosong
e.    Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
f.    Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat.

  1.  Dx VI
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nyeri dapat teratasi/hilang.
    NOC    :     Pain Level

Kriteria Hasil     :

  1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri) .
  2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.
  3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
  4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

 

Indikator Skala
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan

NIC        :    Management pain
Intervensi    :
a.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor predisposisi.
b.    Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c.    Ajarkan teatang teknik nonfamakologi
d.    Kaji tipe dan untuk menentukan intervensi
e.    Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
f.    Tingkatkan istirahat

 

  1. D.  EVALUAS1
  2. Dx I
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 
    2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor  yang mempengaruhi penularan serta, penatalaksanaannya
    3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
    4. Jumlah leukosit dalam batas normal
    5. Menunjukkan perilaku hidup sehat    

 

  1.  Dx II
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,  tidak ada sianosis dan dyspneu
    2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
    3. Mampu mencegah dan mengidentifikasi faktor yang dapat
      menghambat jalan nafas.   

 

  1. Dx III
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan  (sensasi elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
    2. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
    3.  Perfusi jaringan baik 
    4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit  dan mencegah terjadinya cedera berulang
    5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan  kelembaban kulit dan perawatan alami

 

  1.  Dx IV
    Kriteria Hasil    Skala
    a.    Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan 
    b.    Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 
    c.    Mampu mengidentifikasikan kebutuhan nutrisi
    d.    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 
    e.    Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

 

  1. Dx V
    Kriteria Hasil    Skala
    1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
      penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
    2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur
      yang dijelaskan secara benar
    3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
      pasien dan keluarga dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya
    4. Dx VI
      Kriteria Hasil    Skala
      1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
        menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
      2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
        manajemen nyeri
      3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,
        frekuensi dan tanda nyeri)
      4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Copyright © 2003 gemari.or.id designed by Gemari Online. Campak Alias Morbili Oleh : Harun Riyanto
 Kategori Info Penyakit . Campak (Measles)
 http://m.okezone.com Jangan Anggap Remeh Campak
 Coprright @2008 TEMPOinteraktif. Campak
 Copyright @ indoskripsi. com launcehed at November 2007-200. Morbili Website hosting by Ide Bagus
 Kapita Selekta kedokteran Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapu

Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Penyakit Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Ovedoff, David. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Batam Centre: Binarupa Aksara.
Ramali, Ahmad. 2005. Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan.
Richard, E. Behkman. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta EGC.
Wong, Dona. L.  2003.  Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC.

ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS PADA HIDUNG

ASUHAN KEPERAWATAN

TONSILITIS PADA HIDUNG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 6 November 2012

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.   Latar Belakang

Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.

Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/ penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.

2. Rumusan Masalah

  • Apakah yang dimaksud dengan Tonsilitis?
  • Bagaimanakah Etiologi Tonsilitis?
  • Bagaimanakah Manifestasi Tonsilitis?
  • Bagaimanakah patofisiologi dan WOC Tonsilitis?
  • Bagaimanakah penatalaksanaan dan pengobatan Tonsilitis?
  • Bagaimanakah ASKEP pada klien dengan Tonsilitis?

3. Tujuan

  1. Tujuan Umum

Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan tonsilitis secara komprehensif.

  1. Tujuan khusus

a)     Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsilitis

b)     Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien tonsilitis

 

 

 

Bab ii

Tinjauan teoritis

 

  1. a.  Pengertian

Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridons dan Streptococcus pyrogenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer, 2000).

Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A Streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).

Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan, terutama pada anak-anak (Sriyono, 2006).

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Tonsilitis adalah suatu peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok Streptococcus beta hemolitik, Streptococcus viridons dan Streptococcus pyrogenes namun disebabkan juga oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus. Tonsilitis biasanya sering dialami anak-anak yang disertai demam dan nyeri pada tenggorokan

 

  1. A.  Klasifikasi
  2. Tonsillitis akut

Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.

  1. Tonsilitis falikularis

Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.

Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.

 

  1. Tonsilitis Lakunaris

Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.

  1. Tonsilitis Membranosa (Septis Sore Throat)

Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.

  1. Tonsilitis Kronik

Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.

 

  1. B.  Etiologi

Etiologi menurut Mansjoer (2001) etiologi tonslitis adalah :

  1. Streptokokus Beta Hemolitikus

Streptokokus beta hemolitikus adalah bakteri gram positif yang dapat berkembang biak ditenggorokan yang sehat dan bisa menyebabkan infeksi saluran nafas akut.

  1. Streptokokus Pyogenesis

Streptokokus pyogenesis adalah bakteri gram positif bentuk bundar yang tumbuh dalam rantai panjang dan menyebabkan infeksi streptokokus group A. Streptokokus Pyogenesis adalah penyebab banyak penyakit penting pada manusia berkisar dari infeksi khasnya bermula ditenggorakan dan kulit.

  1. Streptokokus Viridans
    Streptokokus viridans adalah kelompok besar bakteri streptokokus komensal yang baik a-hemolitik, menghasilkan warna hijau pekat agar darah. Viridans memiliki kemampuan yang unik sintesis dekstran dari glukosa yang memungkinkan mereka mematuhi agregat fibrin-platelet dikatup jantung yang rusak.
  2. Virus Influenza
    Virus influenza adalah virus RNA dari famili Orthomyxo viridae (virus influenza). Virus ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin pada manusia gejala umum yang terjadi yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat. Dalam kasus yang buruk influenza juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia

 

  1. C.  Patofisiologi

Penyebab terserang tonsilitis akut adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang – kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.

  1. Pada Tonsilitis Akut
    Penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan Epitel kemudian bila Epitel ini terkikis maka jaringan Umfold superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.
  2. Pada Tonsilitif Kronik
    Terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
    Jadi tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu – abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak – bercak tersebut sesungguhnya adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga kuman – kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.
  3. D.  Manifestasi Klinis

Keluhan pasien biasanya berupa nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan kadang – kadang pasien tidak mau minum atau makan lewat mulut. Penderita tampak loyo dan mengeluh sakit pada otot dan persendian. Biasanya disertai demam tinggi dan napas yang berbau, yaitu :

  • Suhu tubuh naik sampai 40 oC.
  • Rasa gatal atau kering ditenggorokan.
  • Lesu.
  • Nyeri sendi, odinofagia.
  • Anoreksia dan otolgia.
  • Bila laring terkena suara akan menjadi serak.
  • Tonsil membengkak.
  • Pernapasan berbau.

 

  1. E.  Komplikasi
  • Otitis media akut.
  • Abses parafaring.
  • Abses peritonsil.
  • Bronkitis,
  • Nefritis akut, artritis, miokarditis.
  • Dermatitis.
  • Pruritis.
  • Furunkulosis.
  1. F.   Pemeriksaan Penunjang
  • Kultur dan uji resistensi bila perlu.
  • Kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.

 

  1. G.  Penatalaksanaan Medis

Sebaiknya pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta makan – makanan yang berisi namun tidak terlalu padat dan merangsang tenggorokan. Analgetik diberikan untuk menurunkan demam dan mengurangi sakit kepala. Di pasaran banyak beredar analgetik (parasetamol) yang sudah dikombinasikan dengan kofein, yang berfungsi untuk menyegarkan badan.

Jika penyebab tonsilitis adalah bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin. Kadang – kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10 hari.
Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah Streptokokus beta hemolitkus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik. Kadang – kadang dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat.

  • Terapi obat lokal untuk hegiene mulut dengan obat kumur atau obat isap.
  • Antibiotik golongan penisilin atau sulfonamida selama 5 hari.
  • Antipiretik.
  • Obat kumur atau obat isap dengan desinfektan.
  • Bila alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamigin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asuhan Keperawatan

  1. 1.   Pengkajian

Fokus pengkajian pada klien yang mengalami peradangan pada tonsil adalah sebagai berikut

  1. Wawancara/Anamnesa
  • Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
  • Apakah pengobatan adekuat
  • Kapan gejala itu muncul
  • Apakah mempunyai kebiasaan merokok
  • Bagaimana pola makannya
  • Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
  1. Pemeriksaan fisik
    Data dasar pengkajian (Doengoes, 1999)
  • Intergritas Ego
    Gejala : Perasaan takut, Khawatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan kerja, dan keuangan.
    Tanda : ansietas, depresi, menolak.
  • Makanan / Cairan
    Gejala : Kesulitan menelan
    Tanda : Kesulitan menelan, mudah terdesak, inflamasi, kebersihan gigi buruk.
  • Nyeri / Keamanan
    Tanda : gelisah, perilaku berhati-bati
    Gejala : sakit tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ke telinga
  • Pernapasan
    Gejala : riwayat merokok / mengunyah tembakau, bekerja dengan serbuk kayu, debu.
  • Persarafan
    Syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelemahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran, kerusakan membran mukosa.
  • Psikologis
    Denial, tidak percaya, menolak, marah, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.
    Hasil pemeriksaan fisik secara umum di dapat :
    • Pembesaran tonsil dan hiperemis
    • Letargi
    • Kesulitan menelan
    • Demam
    • Nyeri tenggorokan
    • Kebersihan mulut buruk
  1. Pemeriksaan diagnostik
    Pemeriksaan usap tenggorok; Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum memberikan pengobatan, terutama bila keadaan memungkinkan. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kuman penyebab dan obat yang masih sensitif terhadapnya.

 

  1. Diagnosa Keperawatan
    Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
  2. Bersihan jalan napas tidak berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan.
  3. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil, adanya trauma secara fisik.
  4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan  makan yang tidak adekuat
  5. Ganggauan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada area bicara.
  6. Hipertermi berhubungan dengan  efek sirkulasi endotoksin pada hipotalamus.
  7. Cemas berhubungan dengan rasa tidak nyaman

 

3. Intervensi Keperawatan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan
    Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
    Intervensi:
    • Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/sesuai indikasi).
    • Kaji fungsi sistem pernafasan.
    • Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/usaha mengeluarkan sekret.
    • Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
    • Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis).
    • Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisioterapi.
  2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil, adanya trauma secara fisik
    Tujuan : Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
    Intervensi:
    • Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
    • Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
    • Ciptakan lingkungan yang tenang.
    • Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.
    • Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
  3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan  makan yang tidak adekuat
    Tujuan : Klien akan memperlihatkan peningkatan nafsu makan.
    Intervensi :
    • Kaji kebiasaan diet, catat adanya kesulitan makan.
    • Berikan makanan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering dan makanan yang menarik.
    • Hindari makan makanan  yang menghasilkan gas.
    • Timbang Berat badan sesuai indikasi.
    • Kaji kepatenan jalan nafas, catat frekuensi  dan adanya bunyi nafas tambahan.
  4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada area bicara.
    Tujuan : Klien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
    Intervensi:
    • Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami).
    • Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
    • Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.
    • Guna tehnik komunikasi non verbal.
    • Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.
    • Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.
  5. Hipertermi berhubungan dengan  efek sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
    Tujuan : Klien akan memperlihatkan suhu dalam batas normal.
    Intervensi :
    • Pantau suhu pasien (derajat dan pola) perhatikan adanya menggigil dan diaforesis;
    • Berikan kompres hangat, hindari penggunaan alkohol.
    • Kaji tanda-tanda vital.
    • Penatalaksanaan pemberian antipiretik (parasetamol).
  6. Cemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
    Tujuan : Klien akan menginformasikan kecemasan berkurang/ hilang
    Intervensi :
    • Kaji tingkat kecemasan klien dan tentukan bagaimana pasien menangani masalah.
    • Identifikasi persepsi pasien tentang ancaman  yang ada dari situasi.
    • Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.
    • Beri informasi yang akurat dan jawab pertanyaan dengan jujur.

 

  1. 4.  Implementasi 

 Implementasi merupakan Pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi  yang tepat dengan  selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dan evaluasi dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

 

  1. 5.  Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:

  1. Berhasil : Perilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
  2. Tercapai sebagian : Pasien menunjukkan perilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
  3. Belum tercapai. : Pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan perilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus

Berdasarkan klasifikasinya :

  1. Tonsillitisakut
    Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.
  2. Tonsilitis falikularis
    Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.
    Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan     yang    tersangkut.

 

B. Saran

Jika pembaca ingin tahu lebih banyak tentang TONSILITIS pembaca dapat membaca buku-buku atau membukasitus tentang TONSILITIS, seperti yang ada pada Daftar Pustaka atau dapat langsung pada Dokter. 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Belden MD. THT : www. emedicine. com. Last Updated 24 Juni 2003.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. FKUI. Jakarta.
Saten S. Chalazion. Taken From : www. emedicine. com. Last Updated : 5 Juli 2007

Askep pada Anak dengan Tetanus

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK dengan “TETANUS”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 7 Oktober 2012

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.       LATAR BELAKANG

Tetanus terjadi diseluruh dunia dan endemik pada 90 negara yang sedang berkembang, tetapi insidensinya sangat bervariasi. Bentuk yang paling sering, tetanus neonatorum (umbilicus), membunuh sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak terimunisasi.

Di RS sebagian besar pasien tetanus berusia > 3 tahun dan < 1 minggu. Dari seringnya kasus tetanus serta kegawatan yang ditimbulkan, maka sebagai seorang perawat atau bidan dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat

 

  1. 2.      Tujuan
  2. Tujuan Umum

Yaitu, agar Mahasiswa/i memahami tentang “ penyakit tetanus pada anak

  1. Tujuan Khusus

Yaitu, agar Mahasiswa/i mengetahui dan memahami tentang :

1)      Definisi tetanus

2)      Etiologi

3)      Tanda dan Gejala

4)      Patofisiologi

5)      Komplikasi

6)      Pencegahan

7)      Ansuhan Keperawatan

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.     PENGERTIAN

Tetanus adalah penyakit infeksi yang akut dan kadang fatal yang  disebabkan oleh neurotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan oleh clostridium tetani, yang sporanya masuk melalui luka.(kamus kedokteran Dorlan)

Tetanus adalah penyakit akibat infeksi luka oleh bakteri clostridium tetani dengan gejala kejang-kejang. (Ahmad A. K. Miuda, kamus kedokteran)

Tetanus adalah suatu penyakit toksemik akut yang disebabkan oleh infeksi Clostridium tetani, pada kulit/ luka. Tetanus merupakan manifes dari intoksikasi terutama pada disfungsi neuromuscular, yang disebabkan oleh tetanospasmin, toksin yang dilepaskan oleh Clostridium tetani. Keadaan sakit diawali dengan terjadinya spasme yang kuat pada otot rangka dan diikuti adanya kontraksi paroksismal. Kekakuan otot terjadi pada rahang (lockjaw) dan leher pada awalnya, setelah itu akan merata ke seluruh tubuh.(Brook I., 2002)

 

  1. B.      ETIOLOGI

Penyakit tetanus disebabkan oleh kuman klostridium tetani. Kuman ini banyak terdapat dalam kotoran hewan memamah biak seperti sapi, kuda, dan lain-lain sehingga luka  yang tercemar dengan kotoran hewan sangat berbahaya bila kemasukan kuman tetanus. Tusukan paku yang berkarat sering juga membawa clostridium tetani kedalam luka lalu berkembang biak. Bayi yang baru lahir ketika tali pusarnya dipotong bila alat pemotong yang kurang bersih dapat juga kemasukan kuman tetanus.

 

  1. C.      TANDA DAN GEJALA

Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah infeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah infeksi. Gejala yang sering ditemukan adalah kekakuan rahang dan sulit dibuka (trismus) karena yang pertama kali terserang adalah otot rahang. Selanjutnya muncul gejala lain seperti gelisah, gangguan memelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, mengigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai.

Kejang pada otot2 wajah menyebabkan expresi wajah seperti menyeringai (risus sardonikus), dengan dua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik kebelakang sedangkan badannya melengkung ke depan yang disebut epitotonus. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan retensi urine dan konstipasi.

 

  1. D.     PATOFISIOLOGI

a)      Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti; luka tertusuk paku, pecahan kaca atau kaleng, luka tembak, luka bakar, luka yang kotor dan pada bayi dapat melalui pemotongan tali pusat.

b)      Organisme multipel membentuk dua toksin yaitu tetanopasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neutropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot dan mempengaruhi sistem syaraf pusat. Kemudian tetanolysin yang tampaknya tidak signifikan.

c)      Exotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem syaraf pusatdengan melewati akson neuron atau sistem vaskular. Kuman ini menjadi terikatpada sel syaraf atau jaringan syaraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toxin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh arititosin.

d)      Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toxin; adalah pertama toxin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat. Kedua toxin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk kesusunan syaraf pusat.

e)      Toxin bereaksi pada myoneural junktion yang menghasilkan otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang.

f)       Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari. Kasus yang sering terjadi adalah 14 hari. Sedangkan untuk neonatus biasanya 5 sampai 14 hari.

 

  1. Komplikasi Tetanus

a)      Patah tulang (fraktur)

Kejang otot berulang-ulang dan kejang-kejang yang disebabkan oleh infeksi tetanus dapat menyebabkan patah tulang di tulang belakang, dan juga di tulang lainnya. Patah tulang kadang-kadang dapat menyebabkan kondisi yang disebut myositis circumscripta ossificans, yang mana tulang mulai terbentuk dalam jaringan lunak, sering di sekitar sendi.

b)      Aspirasi pneumonia

Jika Anda memiliki infeksi tetanus, rigiditas otot dapat membuat batuk dan menelan sulit. Hal ini dapat menyebabkan pneumonia aspirasi untuk berkembang. Aspirasi pneumonia terjadi sebagai akibat menghirup sekresi atau isi perut, yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah.

c)     Laryngospasm                                                                            

Laryngospasm adalah tempat laring (kotak suara) masuk ke dalam kejang, singkat sementara yang biasanya berlangsung 30-60 detik. Laryngospasm mencegah oksigen dari mencapai paru-paru Anda, membuat sulit bernapas. Setelah serangan laryngospasm, pita suara Anda biasanya akan rileks dan kembali normal. Namun, dalam kasus yang sangat parah, laryngospasm dapat mengakibatkan asfiksia (mati lemas). Pulmonary embolism

Suatu emboli paru adalah kondisi serius dan berpotensi mengancam nyawa. Hal ini disebabkan oleh penyumbatan dalam pembuluh darah di paru-paru yang dapat mempengaruhi pernapasan dan sirkulasi. Oleh karena itu, penting bahwa pengobatan segera diberikan dalam bentuk obat anti-pembekuan dan, jika diperlukan, terapi oksigen.

d)      Gagal ginjal akut

Kejang otot parah yang berhubungan dengan infeksi tetanus dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai rhabdomyolysis. Rhabdomyolysis adalah tempat otot rangka dengan cepat hancur, sehingga mioglobin (protein otot) bocor ke dalam urin. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal akut.

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGA TETANUS

 

  1. A.     Pengkajian
    1. Identitas pasien
    2. Identitas orang tua:

Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.

Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat

Identitas sudara kandung

  1. Keluhan utama/alasan masuk RS.
  2. Riwayat Kesehatan
  3. Riwayat imunisasi
  4. Riwayat tumbuh kembang
  1. Riwayat kesehatan sekarang
  2. Riwayat kesehatan masa lalu
  3. Ante natal care
  4. Natal
  5. Post natal care
  6. Riwayat kesehatan keluarga
  1. Pertumbuhan fisik
  2. Perkembangan tiap tahap

 

  1. Riwayat Nutrisi
  2. Riwayat Psikososial
  3. Riwayat Spiritual
  4. Reaksi Hospitalisasi
  1. Pemberin asi
  2. Susu Formula
  3. Pemberian makanan tambahan
  4. Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini

 

 Pemeriksaan Fisik

  1. Keadaan umum klien
  2. Tanda-tanda vital
  3. Antropometri
  4. Sistem pernafasan
  5. Sistem Cardio Vaskuler
  6. Sistem Pencernaan
  7. Sistem Indra
  8. Sistem muskulo skeletal
  9. Sistem integument
  10. Sistem Endokrin
  11. Sistem perkemihan
  12. Sistem reproduksi
  13. Sistem imun
  14. Sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi meningen
  1. B.      Diagnosa keperawatan
  2. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan.
  3. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan.
  4. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia)
  5. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunya.
  6. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang
  7. Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang dan oliguria
  8. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara
  9. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah dan sering kejang
  10. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.
  11. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan seringnya kejang

 

  1. C.      Intervensi

Dx.1.Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)

Tujuan : Jalan nafas efektif
Kriteria :
– Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada
– Pernafasan 16-18 kali/menit
– Tidak ada pernafasan cuping hidung
– Tidak ada tambahan otot pernafasan

– Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam batas normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-100 mmHg)

No

Intervensi

Rasional

1

Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi

Secara anatomi posisi kepala ekstensi merupakan cara untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi tetap berjalan lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas.

2

Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali

Ronchi menunjukkan adanya gangguan pernafasan akibat atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas.

3

Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan melakukan suction

Suction merupakan tindakan bantuan untuk mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi

4

Oksigenasi

Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.

5

Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam

Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.

6

Observasi timbulnya gagal nafas.

Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation)

7

Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi(mukolitik)

Obat mukolitik dapat mengencerkan sekret yang kental sehingga mempermudah pengeluaran dan memcegah kekentalan

Dx.2.Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng, kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.

Tujuan : Pola nafas teratur dan normal
Kriteria :
– Hipoksemia teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn oksigen
– Tidak sesak, pernafasan normal 16-18 kali/menit
– Tidak sianosis.

No

Intervensi

Rasional

1

Monitor irama pernafasan dan respirati rate

Indikasi adanya penyimpangan atau kelaianan dari pernafasan dapat dilihat dari frekuensi, jenis pernafasan,kemampuan dan irama nafas.

2

. Atur posisi luruskan jalan nafas.

Jalan nafas yang longgar dan tidak ada sumbatan proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.

3

Observasi tanda dan gejala sianosis

Sianosis merupakan salah satu tanda manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer

4

. Oksigenasi

Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia

5

Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam

Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.

6

Observasi timbulnya gagal nafas.

Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation).

7

Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah.

Kompensasi tubuh terhadap gangguan proses difusi dan perfusi jaringan dapat

Dx.3.Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC, hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari 10.000 /mm3

Tujuan: Suhu tubuh normal
Kriteria : 36-37oC, hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.000-10.000/mm3

NO

Intervensi

Rasional

1

. Atur suhu lingkungan yang nyaman.

Iklim lingkungan dapat mempengaruhi kondisi dan suhu tubuh individu sebagai suatu proses adaptasi melalui proses evaporasi dan konveksi.

2

Pantau suhu tubuh tiap 2 jam

Identifikasi perkembangan gejala-gajala ke arah syok exhaustion

3

Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequate

Cairan-cairan membantu menyegarkan badan dan merupakan kompresi badan dari dalam

4

Lakukan tindakan teknik aseptik dan antiseptik pada perawatan luka.

.

Perawatan lukan mengeleminasi kemungkinan toksin yang masih berada disekitar luka.

5

Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal rangsangan kejang.

Kompres dingin merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara proses konduksi.

6

Laksanakan program pengobatan antibiotik dan antipieretik

Obat-obat antibakterial dapat mempunyai spektrum lluas untuk mengobati bakteeerria gram positif atau bakteria gram negatif. Antipieretik bekerja sebagai proses termoregulasi untuk mengantisipasi panas.

7

Kolaboratif dalam pemeriksaan lab leukosit.

Hasil pemeriksaan leukosit yang meningkat lebih dari 10.000 /mm3 mengindikasikan adanya infeksi dan atau untuk mengikuti perkembangan pengobatan yang diprogramkan

Dx.4.Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan berat badan menurun ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.

Tujuan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
– BB optimal
– Intake adekuat
– Hasil pemeriksaan albumin 3,5-5 mg %

No.

Intervensi

Rasional

1

Jelaskan faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam makan dan pentingnya makanabagi tubuh

Dampak dari tetanus adalah adanya kekakuan dari otot pengunyah sehingga klien mengalami kesulitan menelan dan kadang timbul refflek balik atau kesedak. Dengan tingkat pengetahuan yang adequat diharapkan klien dapat berpartsipatif dan kooperatif dalam program diit.

2

Kolaboratif :

Pemberian diit TKTP cair, lunak atau bubur kasar.
Pemberian carian per IV line
Pemasangan NGT bila perlu

Diit yang diberikan sesuai dengan keadaan klien dari tingkat membuka mulut dan proses mengunyah.
Pemberian cairan perinfus diberikan pada klien dengan ketidakmampuan mengunyak atau tidak bisa makan lewat mulut sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi.
NGT dapat berfungsi sebagai masuknya makanan juga untuk memberikan obat

Dx.5.Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
Tujuan : Cedera tidak terjadi
kriteria
–   Klien tidak ada cedera
–   Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman

 

Intervensi

Rasional

1

Identifikasi dan hindari faktor pencetus

Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang

2

Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman

Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang

3

Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel

Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien

4

Lindungi pasien pada saat kejang

Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik

5

Catat penyebab mulai terjadinya kejang

Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejang

Dx.6.Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat
Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan
kriteria:
–   Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik

No.

Intervensi

Rasional

1

Kaji intake dan out put setiap 24 jam

Memberikan informasi tentang status cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian

2

Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam

Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler

3

Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien

Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh

4

Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya

Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh

5

Pertahankan kepatenan NGT

Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat jenis urine diduga dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan

 

  1. Implementasi Keperawatan

Lakukanlah apa yang harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan pada pasien.

  1. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi semua tindakan yang telah anda berikan pada pasien. Jika dengan tindakan yang diberikan pasien mengalami perubahan menjadi lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Tetanus (rahang terkunci [lockjaw]) adalah penyakit akut, paralitik yang disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot spasme tanpa disertai gangguan kesadaran. Gambaran penyakit ini berupa : trismus (kaku pada rahang~sulit membuka rahang bawah), rhesus sardonicus (muka seperti monyet meringis), kaku kuduk (leher kaku, tidak bisa untuk mengangguk), opistotonus (badan kaku seperti busur), kaku perut, kejang, dan kemungkinan adanya luka sebagai tempat masuknya kuman. Penyakit tetanus biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan tanah dan dengan kebersihan dan perawatan luka yang buruk.
      Pengobatannya dengan merawat pasien di ruang yang tenang, kemudian diberikan Anti Tetanus Serum (ATS) sesuai berat badannya secara intravena dan sisanya intramuscular. Kejang diatasi dengan pemberian anti kejang (misal diazepam) secara intravena. Juga diberikan antibiotika. Perawatan pasien ini mungkin melibatkan berbagai bidang kedokteran, misalnya penyakit dalam, bedah, gigi, dan THT.

3.2  Saran

Jangan sepelekan luka kecil di tubuh Anda, terutama di bagian kaki atau tangan yang mudah terkena kotoran seperti debu atau tanah. Luka kecil ini bisa menjadi pemicu tetanus, penyakit yang sudah jarang terjadi tapi cukup mematikan. Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri ini akan memproduksi racun yang menyebabkan kejang otot kronis. Tetanus ini sangat berbahaya tapi mudah diatasi jika Anda teliti dan bertindak cepat.

Penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya serta buku ini dapat menjadi referensi untuk pembuatan makalah selanjutnya.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
2. Merdjani, A., dkk. 2003. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
3. Dr. Rusepno Hasan, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Askep pada Anak denga DHF

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK dengan “dhf”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 7 Oktober 2012

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.       LATAR BELAKANG

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).

DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.

 

  1. 2.      TUJUAN
    1. a.      TUJUAN UMUM
    2. b.      TUJUAN KUSUS

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      PENGERTIAN

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman, 1990).

DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).

 

  1. B.      ETIOLOGI
  2. Virus dengue sejenis arbovirus.
    1. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.
      Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.
  3. C.      PATOFISIOLOGI

Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

 

  1. D.      TANDA DAN GEJALA
  • Demam tinggi selama 5 – 7 hari.
  • Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
  • Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
  • Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
  • Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
  • Sakit kepala.
  • Pembengkakan sekitar mata.
  • Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
  • Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
  1. E.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • Darah
  1. Trombosit menurun.
  2. HB meningkat lebih 20 %
  3. HT meningkat lebih 20 %
  4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
  5. Protein darah rendah
  6. Ureum PH bisa meningkat
  7. NA dan CL rendah
  • Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
  1. Rontgen thorax : Efusi pleura.
  2. Uji test tourniket (+)

 

  1. F.       PENATALAKSANAAN
  • Darah

ü  Trombosit menurun.

ü  HB meningkat lebih 20 %

ü  HT meningkat lebih 20 %

ü  Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3

ü  Protein darah rendah

ü  Ureum PH bisa meningkat

ü  NA dan CL rendah

 

  • Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

ü  Rontgen thorax : Efusi pleura.

ü  Uji test tourniket (+)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN  PADA ANAK DENGA DHF

  1. 1.      Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan. pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :

a)      Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).

b)      Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.

c)      Kaji riwayat keperawatan.

d)      Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

2. Diagnosa keperawatan .

Penyusunan diagnosa keperawatan dilakukan setelah data didapatkan, kemudian dikelompokkan dan difokuskan sesuai dengan masalah yang timbul sebagai contoh diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus DHF diantaranya :

a)      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.

b)      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.

c)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.

d)      Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi

e)      Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.

f)       Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

3. Intervensi

Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa keperawatan yang dibuat. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang bersifat mandiri dan kolaborasi. Untuk itu penulis akan memaparkan prinsip rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan :

a)      Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.

Tujuan :

Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi

Kriteria hasil :

Volume cairan tubuh kembali normal

Intervensi :

1) Kaji KU dan kondisi pasien

2) Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )

3) Observasi tanda-tanda dehidrasi

4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus

5) Balance cairan (input dan out put cairan)

6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak

7) Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh keringat.

b)      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.

ü  Tujuan      : Hipertermi dapat teratasi

ü  Kriteria Hasil : Suhu tubuh kembali normal

ü  Intervensi

1)      Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh

2)      Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak

3)      Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat

4)      Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.

5)      Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari

6)      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.

c)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.

ü  Tujuan : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi

ü  Kriteria hasil :Intake nutrisi klien meningkat

ü  Intervensi

1)      Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi

2)      Timbang berat badan klien tiap hari

3)      Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering

4)      Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual

5)      Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).

6)      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.

7)      Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.

d)      Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi

ü  Tujuan : Pengetahuan keluarga tentang proses penyakit meningkat

ü  Kriteria hasil : Klien mengerti tentang proses penyakit DHF

ü  Intervensi

1)      Kaji tingkat pendidikan klien.

2)      Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit DHF

3)      Jelaskan pada keluarga klien tentang proses penyakit DHF melalui Penkes.

4)      beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya yang belum dimengerti atau diketahuinya.

5)      Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien

e)      Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia.

ü  Tujuan : Perdarahan tidak terjadi

ü  Kriteria hasil : Trombosit dalam batas normal

ü  Intervensi

1)      Kaji adanya perdarahan

2)      Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)

3)      Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan.

4)      Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien

5)      Monitor hasil darah, Trombosit

6)      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi ,pemberian cairan intra vena.

 

 

f)       Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

ü  Tujuan : Shock hipovolemik dapat teratasi

ü  Kriteria hasil : Volume cairan tubuh kembali normal, kesadaran compos mentis.

ü  Intervensi

1)      Observasi tingkat kesadaran klien

2)      Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR).

3)      Observasi out put dan input cairan (balance cairan)

4)      Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi

5)      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan.

4. Evaluasi.

Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.

  • Suhu tubuh dalam batas normal.
  • Intake dan out put kembali normal / seimbang.
  • Pemenuhan nutrisi yang adekuat.
  • Perdarahan tidak terjadi / teratasi.
  • Pengetahuan keluarga bertambah.
  • Shock hopovolemik teratasi

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

            Degue hemoragik fever adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus degue yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, yang dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.

 

Askep Pada Anak dengan Difteri

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “difteri”

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 10 Oktober 2012

 

Penulis

 

 

 

 

                                                                                                                                                                 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  LATAR BELAKANG

Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian.

Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit difteri jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

 

  1. B.  Tujuan
  • Tujuan Umum

Yaitu, agar Mahasiswa/i memahami tentang “ penyakit difteri pada anak”

  • Tujuan Khusus

Yaitu, agar Mahasiswa/i mengetahui dan memahami tentang :

  1. Definisi difteri
  2. Etiologi

3. Tanda dan Gejala

  1. Patofisiologi

5. Penatalaksanaan Medis

  1. Komplikasi

7. Pencegahan

8. Danpak hospitalisasi

9. Ansuhan Keperawatan       

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  PENGERTIAN

Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang menular, disebabkan oleh corynebacteri um diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa.

Difteri adalah suatu infeksi, akut yang mudah menular dan yang sering diserang adalah saluran pernafasam bagian atas dengan tanda khas timbulnya “pseudomembran”.
(Ngastiyah perawatan anak sakit, edisi 2 Hal. 41)

Diferi adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae (c. diphtheriae). Penyakit ini menyerang bagian atas murosasaluran pernafasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit letak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membrane kelabu yang menutupi tansil serta bagian saluran pernafasan. (www.podnova.com)

 

  1. B.  Etiologi

Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.

 

  1. C.  Tanda dan Gejala

faktor primer adalah imunitas penderita terhadap toksin  diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk toksin) Corynebacterium diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis.  Faktor-faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit-penyakit  pada  daerah  nasofaring yang sudah ada sebelumnya.

a)      DiphtheriaHidung
Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan  tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan kemudian mukopurulen  mengadakan lecet  pada  nares dan bibir atas. Pada  pemeriksaan  tampak membran putih pada daerah septum nasi.

b)      Diphtheria Tonsil-Faring

Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2  hari timbul membran yang melekat, berwarna  putih-kelabu dapat  menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula  dan palatum molle atau ke distal ke laring dan trachea.

c)       Diphtheria Laring

Pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa gejala obstruksi saluran nafas atas. 

d)      Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga

Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau.

 

  1. D.  Patofisiologi

Corynebacterium diphteriae masuk kehidung atau mulut dimana basil akan menempel di mukosa saluran nafas bagian atas, kadang-kadang kulit, mata atau mukosa genital. Setelah 2-4 jam hari masa inkubasi kuman dengan corynephage menghasilkan toksik yang mula-mula diabsorbsi oleh membran sel, kemudian penetrasi dan interferensi dengan sintesa protein bersama-sama dengan sel kuman mengeluarkan suatu enzim penghancur terhadap Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD).

 

  1. E.  PENCEGAHAN

a)      Umum

Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit  ini  bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita  penyakit  diphtheria  kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat  rendah sehingga perlu imunisasi.

b)      Khusus

Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier.

 

 

  1. F.   KOMPLIKASI

Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, sistem saraf, ginjal ataupun organ lainnya:

1)      Infeksi tumpangan oleh kuman lain

Infeksi ini dapat disebabkan oleh kuman streptokokus dan staphilokokus. Panas tinggi terutama didapatkan pada penderita difteri dengan infeksi tumpangan dengan kuman streptokokus.

2)      Obstruksi jalan napas akibat membran atau oedem jalan nafas

Obstruksi ini dapat terjadi akibat membaran atau oedem jalan nafas. Obstruksi jalan nafas dengan sengaja akibatnya, bronkopneumoni dan atelektasis.

3)      Sistemik

 

  1. G.  PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

Pasien difteri harus dirawat di kamar isolasi yang tertutup. Petugas harus memakai gaun khusus (celemek) dan masker yang harus diganti tiap pergantian tugas atau sewaktu-waktu bila kotor (jangan dari pagi sampai malam hari). Sebaiknya penunggu pasien juga harus memakai celemek tersebut untuk mencegah penularan ke luar ruangan. Harus disediakan perlengkapan cuci tangan: desinfektan, sabun, lap, atau handuk yang selallu kering (bila ada tisu) air bersih jika ada kran juuga tempat untuk merendam alat makan yang diisi dengan desinfektan.

Risiko terjadi komplikasi obstruksi jalan napas, miokarditis, pneumonia.
Pasien difteri walaupun penyakitnya ringan perlu dirawat di rumah sakit karena potensial terjadi komplikasi yang membahayakan jiwanya yang disebabkan adanya pseudomembran dan eksotosin yang dikeluarkan oleh basil difteri tersebut.

  • Sumbatan jalan napas.

Kelainan ini terjadi karena adanya edema pada laring dan trakea serta adanya pseudomembran. Gejala sumbatan adalah suara serak dan stridor inspiratoir. Bila makin berat terjadi sesak napas, sianosis, tampak retraksi otot, kedengaran stridor:

  1. Berikan O2
  2. Baringkan setengah duduk
  3. Hubungi dokter.
  4. Pasang infus (bila belum dipasang)

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIFTERI

 

  1. 1.       Pengkajian
  • Kaji tanda dan gejala umum: apabila terdapat demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia sehingga pasien tampak sangat lemah.
  • Kaji tanda dan gejala lokal: nyeri menelan, bengkak pada leher.
  • Kaji gejala akibat eksotoksin misalnya mengenai otot jantung terjadi miokarditis dan bila mengenai saraf terjadi kelumpuhan.
  • Kaji bila terdapat komplikasi.
  • Pemeriksaan diagnostik: pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin, pada urin terdapat albuminuria ringan.

 

  1. 2.      Diagnosa keperawatan
  • Resiko terjadinya komplikasi obstruksi jalan nafas, miokarditis.
  • Gangguan masukan nutrisi.
  • Gangguan rasa aman dan nyaman
  • Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit difteri.
  • Gangguan hiperterm

 

  1. 3.      Intervensi
  • Pantau dan cegah adanya komplikasi.
  • Dorong dan dukung asupan dan status nutrisi yang sesuai.
  • Pantau adanya nyeri
  • Berikan dorongan emosional pada anak dan keluarga

 

  1. 4.      Implementasi Keperawatan

Lakukanlah apa yang harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan pada pasien.

  1. 5.      Evaluasi Keperawatan

• Anak tidak menunjukan tanda dan gejala adanya komplikasi / infeksi
• Fungsi pernafasan anak membaik
• Tingkat aktifitas anak sesuai dengan usianya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

DIFTERI sangat rentan pada usia bayi dan anak. Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya bahayanya baik anak dan desa, proses penularannya oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh karier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
2. Merdjani, A., dkk. 2003. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
3. Dr. Rusepno Hasan, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid II. Hal 568-72.. Cetakan kesebelas Jakarta: 2005

Askep Pada Anak dengan Difteri

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “difteri”

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur senantiasa kami sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi kami kesehatan, kesempatan dan kemauan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Komunikasi, selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menggambarkan serta menjelaskan bagaimana komunikasi yang baik dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

            Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Selain itu kami juga mempunyai keterbatasan kemampuan, maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca, agar makalah ini menjadi lebih baik.

 

 

 

Padang, 10 Oktober 2012

 

Penulis

 

 

 

 

                                                                                                                                                                 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  LATAR BELAKANG

Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian.

Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit difteri jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

 

  1. B.  Tujuan
  • Tujuan Umum

Yaitu, agar Mahasiswa/i memahami tentang “ penyakit difteri pada anak”

  • Tujuan Khusus

Yaitu, agar Mahasiswa/i mengetahui dan memahami tentang :

  1. Definisi difteri
  2. Etiologi

3. Tanda dan Gejala

  1. Patofisiologi

5. Penatalaksanaan Medis

  1. Komplikasi

7. Pencegahan

8. Danpak hospitalisasi

9. Ansuhan Keperawatan       

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  PENGERTIAN

Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang menular, disebabkan oleh corynebacteri um diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa.

Difteri adalah suatu infeksi, akut yang mudah menular dan yang sering diserang adalah saluran pernafasam bagian atas dengan tanda khas timbulnya “pseudomembran”.
(Ngastiyah perawatan anak sakit, edisi 2 Hal. 41)

Diferi adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae (c. diphtheriae). Penyakit ini menyerang bagian atas murosasaluran pernafasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit letak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membrane kelabu yang menutupi tansil serta bagian saluran pernafasan. (www.podnova.com)

 

  1. B.  Etiologi

Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.

 

  1. C.  Tanda dan Gejala

faktor primer adalah imunitas penderita terhadap toksin  diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk toksin) Corynebacterium diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis.  Faktor-faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit-penyakit  pada  daerah  nasofaring yang sudah ada sebelumnya.

a)      DiphtheriaHidung
Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan  tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan kemudian mukopurulen  mengadakan lecet  pada  nares dan bibir atas. Pada  pemeriksaan  tampak membran putih pada daerah septum nasi.

b)      Diphtheria Tonsil-Faring

Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2  hari timbul membran yang melekat, berwarna  putih-kelabu dapat  menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula  dan palatum molle atau ke distal ke laring dan trachea.

c)       Diphtheria Laring

Pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa gejala obstruksi saluran nafas atas. 

d)      Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga

Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau.

 

  1. D.  Patofisiologi

Corynebacterium diphteriae masuk kehidung atau mulut dimana basil akan menempel di mukosa saluran nafas bagian atas, kadang-kadang kulit, mata atau mukosa genital. Setelah 2-4 jam hari masa inkubasi kuman dengan corynephage menghasilkan toksik yang mula-mula diabsorbsi oleh membran sel, kemudian penetrasi dan interferensi dengan sintesa protein bersama-sama dengan sel kuman mengeluarkan suatu enzim penghancur terhadap Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD).

 

  1. E.  PENCEGAHAN

a)      Umum

Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit  ini  bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita  penyakit  diphtheria  kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat  rendah sehingga perlu imunisasi.

b)      Khusus

Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier.

 

 

  1. F.   KOMPLIKASI

Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, sistem saraf, ginjal ataupun organ lainnya:

1)      Infeksi tumpangan oleh kuman lain

Infeksi ini dapat disebabkan oleh kuman streptokokus dan staphilokokus. Panas tinggi terutama didapatkan pada penderita difteri dengan infeksi tumpangan dengan kuman streptokokus.

2)      Obstruksi jalan napas akibat membran atau oedem jalan nafas

Obstruksi ini dapat terjadi akibat membaran atau oedem jalan nafas. Obstruksi jalan nafas dengan sengaja akibatnya, bronkopneumoni dan atelektasis.

3)      Sistemik

 

  1. G.  PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

Pasien difteri harus dirawat di kamar isolasi yang tertutup. Petugas harus memakai gaun khusus (celemek) dan masker yang harus diganti tiap pergantian tugas atau sewaktu-waktu bila kotor (jangan dari pagi sampai malam hari). Sebaiknya penunggu pasien juga harus memakai celemek tersebut untuk mencegah penularan ke luar ruangan. Harus disediakan perlengkapan cuci tangan: desinfektan, sabun, lap, atau handuk yang selallu kering (bila ada tisu) air bersih jika ada kran juuga tempat untuk merendam alat makan yang diisi dengan desinfektan.

Risiko terjadi komplikasi obstruksi jalan napas, miokarditis, pneumonia.
Pasien difteri walaupun penyakitnya ringan perlu dirawat di rumah sakit karena potensial terjadi komplikasi yang membahayakan jiwanya yang disebabkan adanya pseudomembran dan eksotosin yang dikeluarkan oleh basil difteri tersebut.

  • Sumbatan jalan napas.

Kelainan ini terjadi karena adanya edema pada laring dan trakea serta adanya pseudomembran. Gejala sumbatan adalah suara serak dan stridor inspiratoir. Bila makin berat terjadi sesak napas, sianosis, tampak retraksi otot, kedengaran stridor:

  1. Berikan O2
  2. Baringkan setengah duduk
  3. Hubungi dokter.
  4. Pasang infus (bila belum dipasang)

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIFTERI

 

  1. 1.       Pengkajian
  • Kaji tanda dan gejala umum: apabila terdapat demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia sehingga pasien tampak sangat lemah.
  • Kaji tanda dan gejala lokal: nyeri menelan, bengkak pada leher.
  • Kaji gejala akibat eksotoksin misalnya mengenai otot jantung terjadi miokarditis dan bila mengenai saraf terjadi kelumpuhan.
  • Kaji bila terdapat komplikasi.
  • Pemeriksaan diagnostik: pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin, pada urin terdapat albuminuria ringan.

 

  1. 2.      Diagnosa keperawatan
  • Resiko terjadinya komplikasi obstruksi jalan nafas, miokarditis.
  • Gangguan masukan nutrisi.
  • Gangguan rasa aman dan nyaman
  • Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit difteri.
  • Gangguan hiperterm

 

  1. 3.      Intervensi
  • Pantau dan cegah adanya komplikasi.
  • Dorong dan dukung asupan dan status nutrisi yang sesuai.
  • Pantau adanya nyeri
  • Berikan dorongan emosional pada anak dan keluarga

 

  1. 4.      Implementasi Keperawatan

Lakukanlah apa yang harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan pada pasien.

  1. 5.      Evaluasi Keperawatan

• Anak tidak menunjukan tanda dan gejala adanya komplikasi / infeksi
• Fungsi pernafasan anak membaik
• Tingkat aktifitas anak sesuai dengan usianya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

DIFTERI sangat rentan pada usia bayi dan anak. Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya bahayanya baik anak dan desa, proses penularannya oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh karier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
2. Merdjani, A., dkk. 2003. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
3. Dr. Rusepno Hasan, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid II. Hal 568-72.. Cetakan kesebelas Jakarta: 2005