ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “campak”

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “campak”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Oleh:

Yurita Rahmi

(11111643)

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  LATAR BELAKANG

Morbili adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virusyang belum ada obatnya dan apabila tidak ditindaklanjutkan dalam keperawatannya maka akan mengakibatkankomplikasi dalam tubuh, sehingga peranan keperawatan dalam penanggulangan morbili di RS penting untuk mengurangi resiko penderita penyakit.

Peran perawat adalah mengatasi penyakit morbili dengan promotif, preventif, kreatif dan rehabilitative. Promotif adalah member penyuluhan kesehatan di masyarakat tentang penyakit morbili dan penanggulangannya, preventif yaitu untuk mencegah terjadinya morbili adalah merubah kebiasaan sehari-hari yaitu menjaga kebersihan lingkungan, pola hidup sehat.

Masa tunas atau inkubasi penyakit morbili berlangsung kurang lebih dri 10-20 hari da kemudian timbul gejala-gejala.

 

  1. B.  Tujuan

1)   Tujuan Umum

Mahasiswa memperoleh pengalaman secara nyata dalam merawat pasien anak dengan morbili dan diperoleh informasi dalam gambaran bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pasien anak.

2)      Tujuan Khusus

Agar mahasiswa mampu :

                      i.      Melakukan pengkajian pada klien anak dengan morbili

                     ii.      Menentukan masalah keperawatan pada klien anak dengan morbili

                    iii.      Merencanakan Asuhan Keperawatan pada anak dengan morbili

                    iv.      Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien anak dengan morbili.

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.  PENGERTIAN

Campak disebut juga Morbili. Campak merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian campak dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian.

Penyakit Campak adalah penyakit menular akut yang disebabkan virus Campak/ Rubella. Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien.  Virus ini terdapat dalam darah, air seni, dan cairan pada tenggorokan. Itulah yang membuat campak ditularkan melalui pernapasan, percikan cairan hidung ataupun ludah.

 

  1. B.   Etiologi

Etiologi campak adalah virus RNA dari famili paramikoviridae, genus morbili virus. Hanya 1 tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodormal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.

Virus Campak dapat diisolasi dalam biakan emrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus, perubahan sitopatik, tampak dalam 5 – 10 hari, terdiri dari sel raksasa multi nudeus dengan 1 nukleusi intra nudear. Anti bodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam.muncul. (Richard E. Behrman: 1999).

  1. C.  PENYEBAB

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Rubella, oleh karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.

  1. D.  PENGOBATAN

a)   Campak tanpa Penyulit, cukup dengan:

  • • Rawat jalan
  • • Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori

 

Morbili merupakan suatu penyakit self-limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat symtomatik, yaitu : memperbaiki keadaan umum, antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5 – 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam – ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 – 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari. – Antitusif perlu diberikan bila batuknya hebat/mengganggu, narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan. – Mukolitik bila perlu – Vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat.

Antibiotic diberikan bila ada infeksi sekunder. Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita morbili yang mengalami ensefalitis, yaitu:

  • Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
  • Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.

b)   Campak dengan Penyulit :
– Menyingkirkan komplikasi
– Mengobati komplikasi bila ada
– Merujuk ke rumah sakit bila perlu

 

  1. E.  PENCEGAHAN
  2. Cara yang paling efektif untuk mencegah anak dari penyakit campak adalah dengan memberikan imunisasi campak. Jika setelah mendapat imunisasi, anak terserang campak, maka perjalanan penyakit akan jauh lebih ringan. Imunisasi campak untuk bayi diberikan pada umur 9 bulan. Bisa pula imunisasi campuran, misalnya MMR (measles-mump-rubella), biasanya diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Disuntikkan pada otot paha atau lengan atas
  3. Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.
    Jika anak belum waktunya menerima imunisasi campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam.

 

  1. F.    KOMPLIKASI

Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Namun komplikasi dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak :
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), sehingga penderta
mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
3. Ensefalitis (radang otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.
4. Bronkopnemonia (infeksi saluran napas) 7. Kejang demam (step)
5. Otitis Media (infeksi telinga) ` 8. Diare
6. Laringitis (infeksi laring)

 

  1. G.  DIAGNOSA
    Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut :

ü  Anamnesis
1. Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak), batuk, pilek harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili.
2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.
3. Dapat disertai diare dan muntah.
4. Dapat disertai dengan gejala perdarahan (pada kasus yang berat) : epistaksis, petekie,ekimosis.
5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili (1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi campak.

ü  Pemeriksaan fisik
1. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya demam (biasanya tinggi) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.
2. Pada umumnya anak tampak lemah.
3. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas (akhir stadium kataral).
4. Pada stadium erupsi timbul ruam (rash) yang khas : ruam makulopapular yang munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi, muka, dan kemudian seluruh tubuh.

  1. H.  Manifestasi klinis
    Manifestasi klinis (Ngastiyah : 2005) adalah masa tuntas 10 – 20 hari. Penyakit  dibagi dalam 3 stadium yaitu stadium, kataraiis stadium, erupsi dan stadium konvalensi.
    1.    Stadium kataralis
    biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas tubuh, malaise (lemah), batuk, fct’o fobia (silau), konjungtivitis dan koriza (katar hidung). Menjelang akhir stadium kataralis dan 24 jam timbul eantema (ruam pada selaput lendir). Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi eriterna.
    2.    Stadium erupsi
    a.    koriza dan batuk-batuk bertambah
    b.    timbul enantema atau titik atau titik merah di palatum durum dan palatum mole
    c.    kadang-kadang terlihat pula bercak- bercak koplik
    d.    dalam 2 hari bercak–bercak menjalar kemuka, lengan atas dan bagian dada, punggung, perut, tungkai bawah.
    e.    Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit.
    f.    Rasa gatal, muka bengkak
    g.    Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan di daerah leher belakang
    h.    Terdapat pula sedikit splenomegali serta sering pula disertai diare dam rnuntah
    3.    Stadium konvalensi.
    Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpiginentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering pula ditemukan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomik untuk campak. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal, kecuali jika ada komplikasi.

 

  1. I.    Patofisiologi
    Lest essensial campak terdekat di kulit, membran mukosa nasofaring bronkus, dan saluran cerna dan pada konjungtiva. Eksudat serosa dan poliderasi sel mononudear dan beberapa sel polimorfonuklear terjadi sekitar kapiler. Biasanya terjadi hyperplasia jaringan limfoid, terutama pada apendiks, dimana sel raksasa multi nudeus berdiameter sampai 100 um (set raksasa retikuloendotelial warthin-finkeldey) dapat ditemukan dikulit, reaksinya terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut, bercak koplik terdiri dari eksudat serosa dan preliferasi sel endotel serupa dengan bercak lesi pada kulit. Reaksi kadang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring meluas kedalam jaringan finifold dan membrane mukosa trakeobronkial. Pneumonitis interstisial akibat dan virus campak mengambil bentuk pneumonia sel raksasa hecht. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN CAMPAK

 

  1. A.  PENGKAJIAN
  2. Riwayat keperawatan : riwayat iminusasi, kontak dengan orang yang terinfeksi.
  3. Pada pengkajian anak dengan campak dapat ditemukan adanya tanda¬-tanda:
    1. Demam
    2. Nyeri tenggorok
    3. Nafsu makan menurun
    4. Adanya bercak putih kelabu
    5. Kelemahan pada ekstremitas
    6. Batuk
    7. Konjungtivitis
    8. Eritema pada banan belakang telinga, leher dan bagian belakang
    9. Lemah, lesu
    10. Apabila terjadi komplikasi pada telinga dapat ditemukan adanya serumen atau cairan yang keluar dari telinga.
    11. Apabila pada bronkhus dapat menyebabkan bronkhopneumonia, terjadi masalah pernafasan.

 

  1. B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
  2. Resiko infeksi berhubungan dengan organisme purulen.
  3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang
    tertahan.
  4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunitas
  5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan.
  6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan.
  7. Nyeri akut berhubungan dengan keterbatasan agen injury.

 

 

 

  1. C.  INTERVENSI
  2. Dx I
    Tujuan     :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
    NOC     :    Immune status

Kriteria Hasil     :

  1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
  2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
  3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  4. Jumlah leukosit dalam batas normal
  5. Menunjukkan perilaku hidup sehat

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Infection Control.
Intervensi    :

  1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
  2. Batasi pengunjung bila perlu
  3. Pertahankan teknik isolasi
  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
  5. Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung meninggalkan pasien.
  6. Tingkatkan intake nutrisi
  7. Berikan antibiotik bila perlu

 

  1. Dx II
    Tujuan    :    Setalah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
    keperawatan diharapkan jalan nafas efektif.
    NOC    :     Respiratory status :    Ventilation

Kriteria Hasil    :

  1.  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara, nafas yang bersih, tidak ada sianosis, dan. dyspnen.
  2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
  3. Mampu mencegah dan mengidentifikasi faktor yang dapat menghambat jalan nafas.

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Air way management

Intervensi    :
a.    Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
b.    Identifikasi pasien perlunya pemasangan alai jalan nafas buatan
c.    Lakukan fisioterapi dada jika perlu
d.    Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
e.    Monitor status respirasi dan O2.

 

  1. Dx III
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
    NOC    :    Tissue integrity : Skin and mucous membranes

 

Kriteria Hasil    :

  1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi.
  2. Tidak ada luka, atau lesi pada kulit
  3. Perfusi jaringan baik
  4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang.
  5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.

 

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan

NIC        :    Pressure Management
Intervensi    :   
a.    Anjurkan pasien untak menggunakan pakaian yang longgar.
b.    Hindari kerutan pada tempat tidur
c.    Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
d.    Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali
e.    Monitor kulit adanya kemerahan
f.    Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
g.    Monitor status nutrisi pasien

  1.  Dx IV
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.
    NOC    :    Nutritional Status : Food and fluid intake

Kriteria Hasil    :   
a.    Adanya penigkatan berat badan sesuai dengan tujuan
b.     Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
c.    Mampu mengidentifikasikan kebutuhan nutrisi
d.    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
e.    Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Nutrition management
Intervensi    :

  1.  Kaji adanya alergi makanan
  2. Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
  3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake protein, Fe, dan vitamin C
  4. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
  5. Berikan makanan yang terpilih.
  6.  Dx V
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pasien dan keluarga mengerti tentang penyakitnya.
    NOC    :    Knowledge : Disease process
    Kriteria Hasil     :
    1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
    2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
    3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

Indikator Skala :
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan
NIC        :    Mengajarkan proses penyakit

Intervensi    :   
a.    Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara yang benar.
b.    Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat
c.    Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
d.    Hindarkan harapan yang kosong
e.    Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
f.    Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat.

  1.  Dx VI
    Tujuan    :    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nyeri dapat teratasi/hilang.
    NOC    :     Pain Level

Kriteria Hasil     :

  1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri) .
  2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.
  3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
  4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

 

Indikator Skala
1    :    Tidak pernah menunjukkan
2    :    Jarang menunjukkan
3    :    Kadang menunjukkan
4    :    Sering menunjukkan
5    :    Selalu menunjukkan

NIC        :    Management pain
Intervensi    :
a.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor predisposisi.
b.    Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c.    Ajarkan teatang teknik nonfamakologi
d.    Kaji tipe dan untuk menentukan intervensi
e.    Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
f.    Tingkatkan istirahat

 

  1. D.  EVALUAS1
  2. Dx I
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 
    2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor  yang mempengaruhi penularan serta, penatalaksanaannya
    3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
    4. Jumlah leukosit dalam batas normal
    5. Menunjukkan perilaku hidup sehat    

 

  1.  Dx II
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,  tidak ada sianosis dan dyspneu
    2. Menunjukkan jalan nafas yang paten
    3. Mampu mencegah dan mengidentifikasi faktor yang dapat
      menghambat jalan nafas.   

 

  1. Dx III
    Kriteria Hasil    Skala
    1.  Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan  (sensasi elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
    2. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
    3.  Perfusi jaringan baik 
    4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit  dan mencegah terjadinya cedera berulang
    5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan  kelembaban kulit dan perawatan alami

 

  1.  Dx IV
    Kriteria Hasil    Skala
    a.    Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan 
    b.    Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 
    c.    Mampu mengidentifikasikan kebutuhan nutrisi
    d.    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 
    e.    Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

 

  1. Dx V
    Kriteria Hasil    Skala
    1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
      penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
    2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur
      yang dijelaskan secara benar
    3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
      pasien dan keluarga dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya
    4. Dx VI
      Kriteria Hasil    Skala
      1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
        menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
      2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
        manajemen nyeri
      3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,
        frekuensi dan tanda nyeri)
      4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Copyright © 2003 gemari.or.id designed by Gemari Online. Campak Alias Morbili Oleh : Harun Riyanto
 Kategori Info Penyakit . Campak (Measles)
 http://m.okezone.com Jangan Anggap Remeh Campak
 Coprright @2008 TEMPOinteraktif. Campak
 Copyright @ indoskripsi. com launcehed at November 2007-200. Morbili Website hosting by Ide Bagus
 Kapita Selekta kedokteran Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapu

Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Penyakit Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Ovedoff, David. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Batam Centre: Binarupa Aksara.
Ramali, Ahmad. 2005. Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan.
Richard, E. Behkman. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta EGC.
Wong, Dona. L.  2003.  Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s